LINGKAR WARNA: yu sing -->
Showing posts with label yu sing. Show all posts
Showing posts with label yu sing. Show all posts

Friday, January 31, 2020

1 februari 2020

Bismillahirrahmanirrahim

 - بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Menantang Banjir oleh Yu Sing

Tulisan ini merupakan tulisan yang kami kopi dan paste langsung melaui akun facebook Yu Sing, sebagaimana kita ketahui Yu Sing adalah seorang arsitek profesional yang sering berbicara mengenai arsitektur terutama kaitannya dengan solusi solusi artistik yang kembali kepada alam, mungkin tulisan ini bagi sebagian orang akan terlihat sebagai sebuah kritik yang tendesius kepada pemerintah, tetapi kami melihat pada tulisan ini ada solusi yang bisa menjadi benar benar solusi untuk permasalahan ini, yaitu mari kita secara sadar bersama sama menyerahkan urusan banjir ini kepada orang orang yang berkompeten untuk menyelesaikannya bukan sekedar giringan opini untuk maksud maksud tertentu. Ingin tahu lebih banyak tentang Yu Sing anda bisa mengunjungi kategori artikel Yu Sing di website ini! berikut adalah tulisan lengkapnya.

Menantang Banjir.

Banjir ini sensitif. Sering terjadi, setiap ada kepala daerah/propinsi yang berpropaganda tidak banjir lagi, tidak lama kemudian kebanjiran. Biasanya memang motif politik, bukan wacana pengetahuan pengendalian banjir yang holistik.

Jakarta pernah sesumbar tidak banjir lagi. Lalu kebanjiran.

Belum lama beredar juga #propaganda Surabaya sanggup menyelesaikan banjirnya, kemarin banjir. Saya pernah bertanya2 sendiri saat propaganda itu beredar cukup masif, biasanya diedarkan oleh pendukung politik kepala daerah: "kok bisa ya, surabaya tdk banjir?" (Mungkin mulai banyak danau/waduk, beruntung RTH Surabaya msh >20%, mungkin krn msh byk mangrove?).

Lalu sy mengoreksi pikiran sy sendiri. Banjir sebaiknya tidak dilihat dlm skala waktu 1 musim. Atau 1 periode kepala daerah. Kawasan dataran banjir setiap saat berubah seiring pembangunan & pengendalian banjir oleh pemerintah yg menggunakan cara2 melawan air (polder, tanggul, pompa, timbun). Rekayasa2 itu bisa hanya sementara saja mengurangi banjir.

Pada peta th 1905, terlihat kawasan air Surabaya masih sgt banyak. Termasuk mangrove di Utara, yg saat ini penuh perumahan, pelabuhan, dll. Mangrove masih cukup byk di sisi Timur Surabaya.

Banjir Surabaya kemarin, dari berita online itu, terjadi pada daerah2 yang sekarang sudah penuh bangunan yang tidak ramah air.

Masih ingat awal tahun baru, beredar pula propaganda Semarang tidak banjir lagi. Kepala daerah sesumbar lagi. Tidak lama kemudian banjir di pesisir, maupun di lokasi agak atas. Pengendalian banjir semarang hari ini, adalah #sistempolder Belanda yg telah dilakukan ratusan tahun.

Dan Belanda jaman sekarang, berjuang menghadapi banjir. Anehnya propaganda kehebatan Belanda mengatasi banjir msh sering beredar. Walau dlm skala waktu yang sudah ratusan tahun itu, kemudian pd akhirnya sistem polder kalah.

Banjir di Indonesia, sering 'menyalahkan' pompa, atau tanggul jebol. Padahal tanggul dan pompa itulah memang sistem pengendalian banjirnya, desain pemerintahnya sendiri. Walau sering terjadi pompa rusak, tenggelam, listrik mati, tanggul jebol, masih terus menerus #propagandabanjirtidakadalagi berulang.

Adaptasi lebih baik utk #kotaramahair.

akses terus info terbaru dari website ini dengan
GABUNG KOMUNITAS BERBAGI  RUMAH MINIMALIS INDONESIA (RUMI) 2020 UNTUK JOIN !!!!

Menantang Banjir oleh Yu Sing
Menantang Banjir oleh Yu Sing

Friday, November 01, 2019

2 november 2019

Bismillahirrahmanirrahim

 - بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rumah MIKROBA

Pagi ini sabtu 2 november 2019 berlalu di postfeed kami sebuah ungggahan mengenai rumah panggung berbahan bambu yang di beri tag line rumah Mikroba atau rumah mikro terbuat dari bambu. Rumah mikroba merupakan rumah berbahan bambu dengan ukuran 2x4 meter, rumah ini di tujukan untuk keluarga kecil atau orang yang masih tinggal sendiri. Bagian kolong utk kamar mandi dan tempat nongkrong. Bagian atas bisa untuk kamar tidur berupa mezanin dan ruang keluarga merangkap ruang kerja. 

Setelah mereview ketersedian informasi mengenai rumah mikro bambu ini di dunia maya maka kami dapati bahwa topik ini belum tersedia di search engine google, sangat sayang informasi yang dapat memberi dampak posiitif ini tidak di temukan di google pencarian, hal inilah kemudian mendorong kami untuk membuat artikel ini, sehingga bertahun tahun kedepan informasi mengenai mikro bambu ini selalu tersedia dan dapat di akses dengan mudah oleh siapa saja yang tertarik dengan bahan yang satu ini.

Rumah mikro bambu merupakan ide seorang arsitek yang tidak asing lagi namanya di belantika jagad arsiektur indonesia, arsitek muda cemerlang pendiri biro arsitek Akanoma Yu Sing bekerja sama dengan praktisi konstruksi bambu di indonesia Bambubos. Bagaimana kisah selengkapnya? dalam sebuah tulisan lengkap Jajang Bambubos telah berbagai kepada rekan pembaca sekalian yang kami sharing tanpa di edit pada tulisan kita di bawah, dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat!

akses terus info terbaru arsitektur bambu
GABUNG KOMUNITAS BERBAGI  ARSITEKTUR BAMBU  UNTUK JOIN !!!!

Rumah Mikro Bambu
Konstruksi Rumah Mikro Bambu




Mencari informasi arsitektur, di sini saja!!! Gunakan kolom search di kanan atas untuk menemukan informasi yang anda butuhkan, ketikkan kata kunci anda dan klik search. atau gunakan pencarian dengan kategori di kiri kanan website ini, dan atau skrol untuk melanjutkan membaca artikel. Selamat berselancar =)

RUMAH MIKROBA

Rumah Mikro Bambu adalah hasil obrol-obrol saya paska diskusi di Klinik Kopi bersama Kang Yu Sing beberapa bulan lalu. Saya sangat terkesan pada presentasi arsitek yang concern merespon isu lingkungan dan masalah kehidupan perkotaan ini. Seperti gayung bersambut, Bambubos dan Studio Akanoma akhirnya sepakat bekerjasama untuk mengembangkan Rumah Mikroba. Ini disain awal kami, ukuran 2 x 4 meter bertingkat, tentu disain ini akan dan selalu berkembang. Lantai pertama untuk kamar mandi dan kongkow2, juga bisa untuk parkir sepeda motor. Lantai kedua untuk kamar, ruang kerja, dan ruang keluarga. Multifungsi lah, tentu dengan prinsip hidup "mikro" sederhana, efektif, efisien, tidak buang-buang energi. Rumah ini didisain knock down, struktur lantai satu dan lantai dua dibuat terpisah, lalu digabung saat pembuatan in situ. Bahan utama dari split bambu petung lebar, jadi bukan bambu bulat sebagaimana orang kebanyakan menggunakan. Atap ada beberapa pilihan: sirap pelupuh, alderon, atau metalroof. Semua bambu sudah diawetkan bisa tahan hingga puluhan tahun.

Rumah Mikro Bambu
Denah Rumah Mikro Bambu lt.1

Rumah Mikro Bambu
Denah Rumah Mikro Bambu lt.2

Manusia modern terlalu memboroskan energi. Rumah Mikroba ini hadir untuk menghemat energi agar sisa energi kita (antara lain dalam bentuk waktu, tenaga, dan uang) bisa digunakan untuk aktivitas lain yang produktif. Sebuah peradaban, tingkat pertumbuhannya sangat ditentukan oleh rakyatnya yang mampu menghimpun/menabung energi.

Rumah Mikro Bambu
Tampak Depan Rumah Mikro Bambu

Rumah Mikro Bambu
Fasade Rumah Mikro Bambu

Rumah Mikroba diperuntukan bagi mereka yang kesulitan memiliki lahan luas, keluarga muda, mahasiswa, dan orang-orang cerdas yang hendak menabung energi. Tidak menutup kemungkinan juga untuk Anda yang hendak buka kost-kostan berbentuk rumah mungil--bukan sekedar kamar. Silahkan yang tertarik bisa hubungi kami. Rumah Mikroba ini bisa Anda miliki dengan membeli pada kami atau "merampok" semangat, ide, dan teknik pembuatannya dengan berlatih bersama kami melalui program pelatihan dan workshop Rumah Mikroba. Pelatihan dengan biaya tertentu akan digelar jika sudah ada minimal 8 peserta. Pelatihan ini akan dipandu Kang Yu Sing dan arsitek-arsitek Akanoma serta difasilitasi oleh master-master bambu handal Bambubos Yogyakarta.

KONTAK PERSON RUMAH MIKROBA
Hapsoro Ari Widyatama 082122634587
Attip Tuyonk 085263388007


LIHAT SEMUA KATEGORI ARTIKEL DI SINI

Model rumah minimalis 2019
jasa arsitek dan kontraktor Makassar 
Melayani seluruh indonesia 
Hubungi WA:081241644892 
untuk berbagai contoh desain lainnya:
DAFTAR LENGKAP DESAIN RUMAH MINIMALIS TERBARU

Thursday, June 09, 2016

10 juni 2016

Dialog "Arsitektur untuk Semua"

Yu Sing meyakini bahwa arsitek dan arsitektur tidak melulu untuk kalangan berduit. Desain bangunan yang memadai harusnya dapat dinikmati sampai kalangan menengah ke bawah. Yu Sing pun menggagas program desain rumah dengan harga terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah. Baru-baru ini #yusing dan tim Studio #akanoma mendapat penghargaan internasional Green Leadership Award dari Futurarc BCI Asia untuk proyek Rumah Belajar Lingkungan di Yogyakarta.


Arsitektur untuk Semua
image courtesy by facebook yu sing

Bersama:

Yu Sing I Studio Akanoma

Lahir di bandung, 5 juli 1976, Pada 1994 hingga 1999, Ia menempuh pendidikan Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Setelah lulus, Yu sing mendirikan studio arsitektur bernama Genensis, Pada tahun 2008 Yu sing mendirikan sebuah studio arsitektur bernama Akanoma yang berasal dari kata akar anomali. Akar anomali merupakan simbol dari komitmen studio ini untuk terus mengangkat masalah dan potensi yang ada di indonesia. Yu sing meyakini bahwa arsitektur tidak melulu milik orang yang memiliki harta, namun harus juga dapat di nikmati oleh segala lapisan sosial, oleh sebab itu, Studio akanoma mempelopori desain rumah murah, dengan biaya desain yang relayif terjangkau, sehingga masyarakat dari kalangan menengah kebawah dapat menikmati rumah yang terdesain dengan baik. Yu sing dan Studio Akanoma merupakan penerima penghargaan FuturArch Green Leadership Award 2016 untuk proyek Rumah Belajar Lingkungan di Pantai Watu Kodok Gunung Kidul, yogyakarta.

waktu kegiatan:
17 Juni 2016

Tempat:
Galeri Yuliansyah Akbar
Cigadung Raya Barat no.5
Bandung
Pk 15.00-selesai
Gratiss + takjil

sumber: facebook yu sing




Monday, May 30, 2016

31 mei 2016

Bismillahirrahmanirrahim

- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Di kutip dari facebook Yu sing, arsitek yang satu ini secara rutin terus menginspirasi kita dengan informasi informasi yang sederhana namun sangat bermanfaat dan di butuhkan oleh umumnya masyarakat, berikut adalah informasi selengkapnya

Penyaringan air abu abu


Penyaringan air bekas pakai



Air menjadi kebutuhan utama yang berkelimpahan tapi sekaligus selalu kurang. Filter #greywater utk dipakai kembali menyiram kebun serta #penampunganairhujan adalah sikap menghemat air. Lebih baik lagi kalau air hujan pertama yang mengandung lebih banyak polutan dibuang.

Bila suatu kota bisa stop pengambilan air tanah, penurunan muka tanah bisa ditekan. Misalnya tokyo sejak 1960 stop ambil air tanah dengan pelayanan air bersih ke semua warga, dalam waktu 10 tahun saja penurunan muka tanahnya mendekati 0cm.

Sistem ini dipakai di rumah belajar lingkungan ocean of life indonesia di pantai watukodok, gunung kidul, yogyakarta. Rumah oli ini yang memenangkan #holcimawardindonesia2015 for sustainable construction dan #futurarcgreenleadershipaward2016.

Kemudian bak penampungan air hujan serta bak penyaring air bekas pakai juga telah direplikasi berkali-kali di berbagai proyek studio #akanoma.

Silakan disebarkan dan dibuat di mana2. #MenghematAirItuBaik.





Friday, May 20, 2016

20 mei 2016

Bismillahirrahmanirrahim

- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Memulai pembahasannya dengan memaparkan data data, arsitek yang satu ini memang memiliki karakter yang khas dan sangat jarang di miliki teman teman arsitek, kami sendiri dari lingkar media berkomitmen menyebarkan pemikira pemikiran Yu sing, tentunya di bidang arsitektur, Yu sing juga merupakan satu dari beberapa rekan arsitek yang berkomitment mengkritisi pemerintah dari sisi pandangan profesional arsitekturnya, sangat sangat sulit di temukan profesional seperti ini!!!

Yu sing
image courtesy by properti.kompas



Sedikit dari apa yang di paparkan, Yu sing memulai dengan menjelaskan ribuan tahun sebelum masehi lalu di tambah 1950 tahun masehi jumlah penduduk dunia hanya sekitar 2.5 milyar, bisa di bayankan yah butuh waktu ribuan tahun, tetapi tiba tiba dalam waktu 65 tahun kemudian, yaitu tahun 2015 penduduk dunia menjadi 7.5 milyar kira kira begitu, jadi ini adalah percepatan yang gila gilaan dan memang menimbulkan masalah yang banyak.

Hal ini juga menyebabkan bumi semakin rusak, karena salah satu faktor penyebab bumi semakin rusak adalah manusia modern karena pertumbuhan penduduk tadi, sebenarnya berapa banyaksih energi yang di gunakan oleh manusia? rata rata 40% energi dunia itu di pakai oleh bangunan dari 40% tersebut ternyata yang lebih banyak memberikan sumbangsih penggunaan energy yaitu recidential atau perumahan. Nah pembahasannya semakin menarik bukan??? simak saja lecture selengkapnya pada video berikut ini!!







Thursday, May 05, 2016

6 mei 2016

Apa itu ‪bangunan hijau
image courtesy by facebook yu sing

Sejak 1993 amerika punya dewan bangunan hijau. Lalu mengeluarkan standar sertifikasi bangunan hijau LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) di tahun 2000 yang sangat baik dan detail serta menjadi acuan/referensi banyak negara termasuk indonesia.

Namun sertifikasi tinggi bangunan hijau belum tentu betul2 ‪#‎ramahlingkungan‬. Gambar di atas memberikan ilustrasi yang sangat baik tentang hebatnya pemasaran yang membuat segala aspek konsumerisme menjadi seolah2 'hijau' tapi tetap konsumtif.

Data 2008: Rata2 energi dunia 40%nya dipakai bangunan. Data 2009: amerika menggunakan 48% energinya untuk bangunan. Walaupun telah ada leed. Masalahnya barangkali di sini. Pakai sensor lampu. Maka dapat nilai bagus. Pakai kaca reflektor berteknologi tinggi. Nilai bagus. AC berteknologi tinggi mengatur suhu antar ruangan bisa berbeda2 dan tidak terpusat. Nilainya bagus. Pakai material pabrikan yang seragam. Bernilai bagus karena mengurangi sampah sisa material. Dll.

Padahal yang mestinya dinilai bagus sekali adalah tidak pakai semua itu. Mungkin lebih baik didorong bangunan pasif yang menyesuaikan iklim dengan teknologi rendah bermaterial alami yang mudah terurai kembali ke bumi tanpa perlu banyak energi untuk membuatnya dan tidak perlu pabrik besar jauh2 atau cukup hanya dikerjakan pengrajin material di tempat asal materialnya masing2 dan tidak perlu transportasi jauh serta punya hubungan saling bergantung antara kelestarian sumber daya alam dengan pembuatan material tersebut.

Ya. Memang saya dan kita perlu masih terus belajar hidup lebih ramah lingkungan. Tidak mudah. Mudah sekali dikelabui pemasaran aneka produk2 hijau yang sebetulnya tidak diperlukan. Misalnya saja daun pisang bisa menggantikan pembungkus makanan 'hijau'.

Begitu juga pilihan2 berarsitektur. Fasad anyaman pelepah sagu yang mundur dan terlindung panas matahari langsung lebih baik daripada kaca reflektor canggih yang diproduksi di pabrik entah di mana.
Gimana pendapatmu? Jangan2 aneka perangkat penilaian bangunan hijau itu banyak unsur pembenaran atas perasaan bersalah menggunakan banyak energi dan material modern yg sebetulnya tdk betul2 ramah lingkungan




Saturday, April 23, 2016

23 april 2016

Semua manusia adalah pendatang
image courtesy by facebook Prathiwi Widyatmi Putri, Kampung around Batavia - they have been there since a looooooong time ago, Mr. Governor (my thesis, 2014).
Semua manusia adalah pendatang. Termasuk saya dan kamu. Bebas berdatangan ke mana dan kapan. Bila hari ini regulasi belumlah adil dan lengkap, janganlah mereka dituduh2 penghuni liar. 

Di jaman dulu misalnya masyarakat boleh saja menempati tanah dan diketahui diijinkan kepala wilayah. Tanpa surat. Tanpa dituduh liar. Malah diterima dengan kekeluargaan. Ini kearifan lokal.

Menjadi tambah pelik ketika semua dikomersialisasi diserahkan ke pasar tanpa kontrol yg adil jelas dan proteksi apapun dari pemerintah yang korup.

Sertifikat ganda. Sertifikat lama hilang tiba2 di bpn terbit sertifikat baru atas nama orang lain. Banyak juga kepentingan komersial menyingkirkan yang lemah secara paksa. Dst. Tidak benar bila semua warga kampung lalu dituduh penghuni liar tanpa benar2 tahu sejarah dan liku2 perjuangan turun temurun.

Kemalasan memilah dan mendalami perkara pelik ini dengan mudah pasti mengakibatkan banyak korban ketidakadilan baru. Semakin diperlakukan tidak adil...manusia semakin keras. Persoalan sosial makin rumit. Masalah makin banyak.

Solusi singkat cepat instan tidak tepat untuk urusan pelik dan mengakar lama. Semoga indonesia kembali pulih. Warga saling menghargai saling bantu. Gotong royong. Damai.






Wednesday, April 20, 2016

20 april 2016

Bismillahirrahmanirrahim

 - بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Desain sistem RumahTerapung dalam kapling perumahan

Desain sistem RumahTerapung dalam kapling perumahan
image courtesy by properti.unhas
Desain sistem #RumahTerapung dalam kapling perumahan yang lokasinya berupa area #LahanBasah.

Lahan basah yang alami diperlukan untuk menampung air hujan agar tidak membebani saluran kota. Kota yang kekurangan lahan basah sering bermasalah dengan banjir.
Sebanyak mungkin membuat lahan2 basah buatan, bila yang alami sudah dihilangkan, sangat perlu dipikirkan untuk kota2 yang semakin padat. 



Kota2 yang banyak rawa dan lahan basah yang belum padat, jangan ya ikut2 kesalahan kota2 tanpa banyak lahan basah.
Mempertahankan lahan basah = mempertahankan kondisi ekologis alami = mengurangi potensi banyak masalah di masa depan yang berakibat pemborosan biaya.

Studio #akanoma.

image courtesy by facebook yu sing






Tuesday, April 19, 2016

20 april 2016

Bismillahirrahmanirrahim

 - بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

kota maju ini menjadi kota mati

Akankah nanti kota maju ini menjadi kota mati
image courtesy by renovasi-ku
#KematianAlamiah

Cara alamiah atau sintetik.

Pertumbuhan penduduk dunia yang pesat mengancam banyak hal. Hutan berkurang. Pertanian menyusut. Sampai tahun 1950 penduduk dunia baru 2.5 milyar orang. Tiba2 di tahun 2015 sudah mencapai 7.3 milyar. Hanya dalam waktu 65 tahun peningkatannya hampir 3x lipat.


Kekurangan pangan dunia mengancam seiring lahan pertanian yang justru makin menyusut. Selain kebutuhan perumahan yang makin besar, manusia lebih terdorong untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daripada pertanian. Pada era akhir presiden SBY, setiap tahun Indonesia kehilangan 100.000 hektar lahan pertanian. Walaupun pemerintah klaim telah kembalikan 60.000 hektar dengan membuka lahan pertanian baru, produktivitasnya masih diragukan. Food estate di ketapang kalimantan barat seluas 3 ribu ha, akan diperluas 20 ribu ha, dengan ambisi 100 ribu ha, yang dicanangkan menteri bumn pak dahlan iskan waktu itu, di tahun 2015 saya lihat ke sana dalam kondisi terbengkalai dan ditinggalkan. Habis semua dimakan hama belalang.

Asumsi bahwa jumlah produksi pertanian dengan cara organik tidak akan cukup menyediakan kebutuhan pangan, sejak dahulu telah dikembangkan aneka produk pertanian non organik. Bibit, pupuk, obat hama pertanian semuanya hasil buatan pabrik. Ada kepentingan korporasi besar. Saya lupa angkanya persisnya, mungkin sekitar 80% bibit tanaman pertanian di indonesia itu adalah hasil ekspor. Bisnis yang besar.

Jadi, selain lahan pertanian diancam oleh aneka pengembang dan korporasi investasi besar dan menengah dengan berbagai fungsi gaya hidup kekinian, lahan pertanian yang ada pun sejak jaman orde baru telah diambil alih oleh produk2 buatan, bergantung pada pupuk dan obat hama kimia. Apakah betul bahwa pupuk, insektisida & herbisida kimia hanya satu2nya harapan bagi pemenuhan kebutuhan pangan?

Masanobu Fukuoka (1913-2008), petani revolusioner dari jepang, mengembangkan pertanian alamiah yang volume produksi kebunnya bisa sama dengan produksi kebun yang dikelola tidak alami. Masanobu adalah ilmuwan agrikultur dan mikrobiologis yang di usia 25 tahun keluar dari pekerjaannya karena tidak percaya bahwa agrikultur cara 'modern' adalah yang benar dan baik. Sejak itu masanobu bertani. Dan kini buku2nya, salah satunya 'revolusi sebatang jerami' menjadi inspirasi di seluruh dunia.

Insektisida kimia dapat menghindarkan tanaman dan sayuran dari hama2 serangga. Tapi kita juga tahu bahwa semua serangga ikut mati. Termasuk serangga2 pembantu petani, pemangsa hama alami. Pupuk kimia dan herbisida berlebihan juga membuat tanah menjadi keras. Cacing dan aneka hewan penyubur tanah tersingkir. Serangga cacing dll musnah. Burung2 kehilangan makanan. Ekosistem terganggu secara berantai.

Puncak kekagetan kondisi ini ditulis dalam buku ahli ilmu lingkungan, rachel carson, 1962 berjudul the silent spring. Setelah perang dunia ke 2 berakhir, sisa2 bahan2 perang spt mesiu dll masih melimpah. Pabrik kimia memutar otak membuat pabrik obat hama sintetik menggunakan bahan2 bekas perang itu. Dipakailah di amerika secara massal. Akibat penggunaan pestisida sintetik yang berlebihan, membuat suatu masa musim semi tersepi. Tidak ada suara burung. Serangga lenyap. Kerusakan lingkungan meningkat cepat. Akibat buku ini penggunaan DDT dilarang.

Apakah dunia sudah sadar dan kembali ke cara2 alamiah dan organik? Masih jauh dari itu. Penelitian pertanian alamiah sepertinya kalah jauh tertinggal dari penelitian pertanian tidak alami. Ingat kepentingan ekonomi manusia lebih diutamakan. Pertanian alamiah berarti bibit alami yang bisa dibudidayakan petani tanpa terus beli. Pupuk alami berarti petani bisa buat sendiri. Obat2 hama alami berarti tidak bisa dikuasai pasar korporasi besar.  

Saat ini telah lama berkembang bibit transgenik hasil rekayasa genetika. Monsanto adalah perusahaan amerika yang sangat besar dalam mengembangkan korporasi pertanian dengan bibit transgenik (gmo). Membuat petani bergantung sepenuhnya kepada monsanto dan perusahaan sejenis agar pertaniannya dapat panen dengan iming2 produktivitas yang tinggi dan pasti. Walau kenyataannya juga banyak yang gagal.

Indonesia juga membuka diri pada bibit transgenik ini. http://www.kemenperin.go.id/artikel/1347/Monsanto-Jadikan-RI-Basis-Produksi-Benih-Jagung . Masih perlu banyak pertanyaan dan keraguan karena banyak aktivis lingkungan, pertanian, & kesehatan di seluruh dunia menolak bibit transgenik ini karena dampaknya yang bisa fatal buat kesehatan manusia bila dikonsumsi dalam jangka panjang. Tapi yang jelas dan pasti kebergantungan pada korporasi tidak mungkin bisa membuat petani berdaya dan menanjak kesejahteraannya, dibandingkan bila petani diajarkan pertanian alamiah dengan mandiri.

Kemandirian pertanian alamiah juga adalah jalan masuk kegotongroyongan bersama2 kelompok saling berbagi informasi. Hidup yang lebih berkualitas. Alam lingkungan yang lebih sehat.

Menghabiskan seluruh serangga tanpa pandang manfaatnya dalam ekosistem, adalah cara sangat kasar dan gegabah. Kita semua mungkin mudah setuju dalam pernyataan ini. Karena menyangkut hewan. Bukan dunia manusia. Lebih mudah diterima tanpa memihak. (soal perlu tidaknya obat hama kimia itu lain topik lagi. Prinsipnya serangga dan ekosistem lain tidak boleh dimusnahkan tentu semua setuju).

Tetapi berhubung profesi saya arsitek, saya juga melihat hal yang sama dalam dunia perkembangan kota. Manusia2 lemah miskin kecil digusur disingkirkan dengan cara tidak alamiah tanpa pandang bulu. Tidak dipilah pilah. Tidak diajak dialog dengan sungguh2, tidak seperti masanobu berdialog dengan alam dan kebunnya. Tidak melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas, mengapa ada kumuh? Mengapa ada urbanisasi? Mengapa ada kemiskinan? Mengapa ketidakadilan sekian puluh tahun tidak diperhitungkan sebagai kegagalan yang harus diperbaiki? Di mana2 terjadi di banyak kota besar. Serupa seperti halnya pertanian, kepentingan ekonomi lebih utama bagi manusia daripada pertanian itu sendiri. Demikian juga dalam kasus2 penggusuran paksa. Tidak peduli kerusakannya pada banyak (mental) anak, pemuda, ibu, orangtua. Akankah nanti kota2 maju ini menjadi kota2 mati? Seperti the silent spring?  





Monday, April 18, 2016

19 april 2016

Bismillahirrahmanirrahim

 - بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Cara Membuat komposter di rumah sendiri


Membuat komposter di rumah sendiri
image courtesy by yopiedompas
50-70% sampah kota adalah sampah organik, bila sampah sampah ini sebelum menuju ke penampungan akhir perkotaan telah dipilah dan di pisah terlebih dahulu di rumah setiap warga masing masing, lalu kemudian di olah menjadi kompos, maka bisa di pastikan sampah kota menjadi sangat berkurang. Mobil mobil sampah yang biasanya berlalu lalang dan sangat mengganggu dengan baunya dan pemandangan yang tidak nyaman niscaya akan hilang karena menjadi lebih bersih dan tidak berbau.


 
Cara pembuatan komposter aerob ini cukup sederhana dan di buat berdasarkan referensi yang di lihat dari teman teman yang telah membuatnya, pencarian lewat internet dan telah di lakukan sendiri dirumah saya, salah satu tulisan dalam update Yu sing, Yusing menjelaskan bahwa hal ini telah dilakukan beberapa tahun terakhir ini dan hampir mendekati 99% dari sampah organik di rumah tidak ada yang keluar atau di buang secara langsung. Berikut adalah update resminya.
#‎komposter‬ rumahan.
Mengelola ‪#‎sampahorganik‬ di halaman rumah sendiri.
50-70% ‪#‎sampahkota‬ adalah sampah organik.
Bila dipilah dipisah di rumah masing2, lalu dijadikan kompos, maka sampah kota akan jauh berkurang.
Mobil2 sampah yang bau kalau lalu lalang akan senyap tak terlihat lagi karena bersih dan baunya hilang.
Cara ‪#‎komposteraerob‬ sederhana ini dibuat berdasarkan cari2 informasi lewat teman dan internet serta sudah dilakukan sendiri di rumah saya beberapa tahun ini. Hampir mendekati 99% sampah organik di rumah tidak keluar rumah.
Grafis dibuat oleh @yopiedompas wakil studio ‪#‎akanoma‬ solo.

Ingin kota bersih? Jangan cuma ngomel. Ayo buat komposter di rumah masing2.






Saturday, April 16, 2016

16 april 2016

Menata tanpa gusur kampung kota
image courtesy by studyinchina
Kali ini belajar dari tianzifang shanghai.
Di mana mana terjadi rencana pemerintah ‪‎menggusur‬ bongkar kampung kampung warga diganti pusat bisnis belanja modern atau dibersihkan demi pembangunan.

Warga melawan dan berhasil.
Ini contoh lain setelah jetty georgetown penang yg dulu saya telah bagikankan. Tianzifang‬ ini juga sekarang jadi sangat beken untuk dikunjungi turis dari mana mana.
Ketika rencana pemerintah kurang tepat...ada waktunya warga harus melawan. Berjuang. Ada berhasil ada tidak. Tapi perlawanan melawan kesewenangwenangan tidak pernah surut.

".. Tianzifang was not initially destined to be redeveloped, but fortunately it was, and now it is one of the most picturesque and chic areas of the city, where you can really feel the spirit of old Shanghai.

"..In the early 2000’s the shikumen buildings of Tianzifang were planned to be demolished and replaced with a modern business and shopping area. Such plans, however, met opposition from the local residents and businesses; later a group of local artists and entrepreneurs submitted a proposal to Shanghai government to preserve Tianzifang architecture.."
http://studyinchina.universiablogs.net/…/must-visit-places…/

‪#‎takanoma‬.







Friday, April 15, 2016

16 april 2016

yu sing
image courtesy by renovasi-ku
Rusun untuk warga kampung (kota).

Telah begitu banyak saya ikuti dan dengar. Seminar. Ruang kuliah. Forum diskusi kelompok. Baik di kampus, komunitas, maupun kementerian. "di banyak tempat dibangun wc umum. Agar warga tdk buang kotoran ke sungai, kali, atau sembarangan. Setelah dibangun..wc umum tidak dipakai. Banyak persoalan. Budaya. Perawatan. Dll."

Itu hal sangat sederhana. Buang kotoran dan air kencing. Tapi tidak bisa dianggap remeh. Pemberian ratusan juga buat warga bisa jadi sia2 hanya karena maksud baik tanpa diskusi dengan kelompok pemakai.

Bayangkanlah rumah susun. Warga kampung kota dengan ikatan sosial ekonomi budaya yang begitu kuat pada struktur kampungnya. Tiba2 dipindah gusur masuk unit2 rusun yang begitu saja. Rusun standar. Keterpaksaan tentu bisa membuat mereka bertahan. Tapi bila diajak diskusi..didengarkan..diajak mencari alternatif lain..tentu sangat berbeda.

Telah banyak keilmuan lahir tentang pembangunan partisipatif, perumahan vertikal seperti apa yang mungkin lebih cocok untuk warga kampung dilahirkan oleh banyak profesor. Berbagai akademisi dan praktisi dari berbagai negara pun kagum kalau mendengarnya. Konsultan sangat terkenal dunia pun bahkan mengeluarkan buku kampung vertikal dengan menyoroti kegagalan dan kemonotonan serangan menara2 seragam di berbagai negara asia yang miskin imajinasi keberagaman, fleksibilitas, dan ikatan sosial.
 
Namun. Sampai saat ini. Regulasi rusun masih sangat kuno. Tidak mampu dan belum ada regulasi yang memungkinkan kampung susun. Begitu pula maksud baik pemerintah sejak dulu. 1000 menara rusun yang kuno. Diseragamkan. Dianggap remeh. Diinstankan. Dibangun di mana2. Di kampus dunia pendidikan pun tidak terkecuali. Dana rusun untuk mahasiswa turun ke daerah. Ini dana pusat. Gambar dari pusat. Seragam. Tak peduli bentuk lahan. Tak peduli budaya lokal. Bangun rusun seragam.

Di kala banyak negara yang sudah terlanjur mengalami keseragaman lalu mulai mau perbaiki cari karakter kotanya masing2. Sudah terlambat. Tapi tetap berupaya. Pemerintah seolah menghianati dirinya sendiri. Menghianati nenek moyangnya sendiri. Yang manusia laut. Manusia kampung. 

Hargailah kearifan lokal. Hargailah keberagaman. Hargailah kebinekaan. Bineka tunggal ika dihianati. Diseragamkan jadi rusun yang seolah menyelesaikan semua persoalan dan tidak ada solusi bisa lebih baik dari itu. Menghianati bahwa selama ini kota2 itu bisa berjalan karena jasa orang2 kampung kota dengan berbagai peran profesi informal yang dibutuhkan banyak orang yang bekerja di ruang2 formal. 

Terbayang2 bencana massal menyongsong. Bukan belum terjadi. Ada rusun bagus jaman dulu di jakarta sudah ada yang kosong dan gagal. Padahal fisiknya bagus. Terbayang sesederhana kamar mandi saja warga tidak mau pakai bila ada alternatif dan gagal komunikasi. Bagaimana nanti dengan rusun2 itu? Apakah hidup manusia sesederhana ruang kotak? Melihatnya saja bangunan2 besar tinggi seragam begitu sudah bencana bagi keindahan kota. Bagaimana bagi kehidupan di dalamnya? 

15 april 2016, yu sing. arsitek.






Wednesday, April 13, 2016

14 april 2016

yu sing
image courtesy by renovasi-ku
Siapa suruh datang jakarta? Nyatanya 60an% uang indonesia berputar di jakarta. Maka sejak jaman bedil sundut orang2 dari negara belum bernama indonesia sudah pada datang ke jakarta mencari nafkah. Puluhan tahun pengelolaan negara yang 'rasis' thd daerah, tdk dipintarkan, dieksploitasi, 'upeti', dll membuat daerah2 terus tidak bisa berkembang dengan baik.





Urbanisasi itu menjadi kepastian dan 'takdir'. Ada segelintir yang memang sudah kaya bermodal datang ke jakarta dan terus bertambah kaya. Ada yg miskin ke jakarta lalu menjadi kaya dan makin kaya. Ada pula memang yang kaya ke jakarta lalu jatuh miskin. Tapi tentu saja jauh lebih banyak yang miskin ke jakarta dan tetap miskin.

Pernah terdengar kuat salah 1 solusi membersihkan kekumuhan adalah memulangkan orang2 miskin itu ke kampungnya masing2. Mengapa? Karena tidak berhasil jadi kaya? Atau belum?
Bagaimana dengan yang berhasil kaya. Apakah sudah merasa cukup berhasil dan punya modal besar lalu selesai tinggalkan jakarta kembali ke kampungnya? Mungkin ada tapi anomali. Kenapa mereka tidak juga disuruh pulang dari jakarta krn dianggap sudah cukup dan gantian orang lain yg mengadu nasib? Bukankah mereka juga dulu bukan org jakarta?

Pangkal masalahnya adalah 60% uang indonesia itu berkumpul di jakarta. Maka siapa saja berhak mengejarnya karena ketimpangan ekonomi itu mengakibatkan ketimpangan sosial budaya dan kemanusiaan. Bagaimana bila diatur hanya 10% saja uang indonesia yang berputar di jakarta? Pembangunan rumah2 jauh lbh dibutuhkan banyak daerah yang terus tekor pasokannya daripada kebutuhannya. Ekonomi maju di berbagai daerah mungkin menarik minat para migran kembali ke kampungnya. Dan seterusnya sehingga jakarta tidak terlalu penuh sumpek.
 
Kalaupun masih jauh dari upaya itu, pernahkah berpikir bahwa kecerdasan itu bukan hanya kecerdasan mengumpulkan kekayaan? Pernahkah berpikir bahwa bos2 besar pengembang itu tidak akan jadi super kaya tanpa tukang2? Bos2 besar itu tdk punya kecerdasan bertukang. Dan tanpa kecerdasan bertukang..tidaklah mungkin mereka sekaya sekarang. Tapi apakah kecerdasan bertukang ini dihargai tinggi? Apakah para tukang yang cerdas ini diberikan saham yang cukup shg mereka pun bisa mengkaya tanpa meninggalkan profesinya?

Sang pencipta menitipkan banyak sekali kecerdasan yang berbeda2 kepada banyak orang tetapi tidak kita hargai cukup. Hanya posisi2 puncak saja yg dihargai cukup. Mestinya tukang juga bangga atas kecerdasan bertukangnya. Tetap terus bertukang krn itulah dirinya yg seharusnya menjadi. Namun terus mengkaya seiring banyak karyanya dihargai baik.

Tidaklah cukup adil bila org2 miskin yang datang ke jakarta belum merasa cukup walau cukup banyak hartanya dikirim ke kampungnya dan berhemat ketat di jakarta, lalu diperlakukan spt maling dan disuruh kembali ke kampung. Sementara org2 sangat kaya berlimpah tdk pernah merasa cukup terus menumpuk kekayaan spt paman gober di tanah jakarta dan tak pernah disuruh kembali ke kampung.

14 april 2016, yu sing. pendiri studio arsitektur akanoma yang membagikan 20% penghasilannya untuk semua karyawannya sesuai kecerdasannya masing2 (di luar gaji dan operasional yg juga menyedot porsi sangat besar dari penghasilan).





Monday, April 11, 2016

12 april 2016

yu sing
image courtesy by renovasi-ku
Pertanyaan mendasar ini perlu kita tanyakan sebelum terlalu cepat menyalahkan warga kampung/pasar kumuh.

Di dalam kampung/pasar kumuh:
Bila jalan rusak, mengapa tidak diperbaiki?
Bila banyak sampah, mengapa tdk segera dibersihkan? Seperti sampah berserakan setiap perhelatan acara besar di pusat2 kota atau jalanan kota.
Bila saluran rusak/belum ada, mengapa tidak dibersihkan dikeruk dan dibuat baik seperti di pusat2 kota?
Bila pelayanan air bersih & kotor tidak/belum layak, mengapa tidak diusahakan?

Mengapa bila warga kampung yg disebut kumuh berupaya mencari nafkah secara informal sering dipersulit dan digusur2?
Bukankah pemimpin kota wajib melayani semua warga tanpa kecuali?
Mengapa tidak berproses untuk menata?
Melayani dengan mengajak warga memperbaiki?
Mengapa hanya gusur?
Mengapa ketidakmampuan pemerintah melayani dan memberi prioritas utk membantu yang lebih lemah, malah dibayar dengan kemarahan dan menggusur kumuh?
Bukankah pemerintah itu mencoreng muka sendiri?
Mengapa ruang2 hijau habis dijual2 ke pemodal kuat? Tapi ketika krisis lalu semua mata melirik ke kampung2 kumuh untuk dijadikan sasaran korban? Mengapa pemerintah tidak lebih dulu dr pemodal beli2 lahan untuk ruang hijau demi pelayanan kota yang lebih baik?

Belajarlah juga dari banyak negara.
Melayani yang lebih lemah, mengubah kumuh jadi bersih dengan menata, memberikan tempat tinggal dan usaha yang bersih aman terjamin kepada warga2 yang lemah kumuh, bukanlah mimpi konyol.

Bukankah kita pujapuji bila ada program kesehatan dan pendidikan untuk semua?
Di balik ketidaksempurnaan pelaksanaannya,
Mengapa tidak ada program rumah untuk org2 tdk mampu baik atas lahan maupun rumahnya?

Mengapa ada kumuh?
Anak yang lapar, lemah, kotor, tidak berdaya, apakah sebaiknya disingkirkan jauh2 atau orang tuanya layani dan rangkul anak itu?





Saturday, April 09, 2016

10 april 2016

Dinding sungai alami Vs Normalisasi yang tidak normal
image courtesy by facebook Yu sing
#‎dindingsungaialami‬ vs ‪#‎normalisasi‬ yg tidak normal.

Atas adalah usulan kami pendamping warga ‪#‎kampungpulo‬ untuk membuat dinding sungai dengan pendekatan ‪#‎bioengineering‬ .

Sungai diperlebar dan dindingnya alami dengan penanaman ‪#‎bambu‬ , ‪#‎akarwangi‬, ‪#‎bakau‬.
Air tanah terjaga. Ekosistem sungai bertambah kaya dan terjernihkan. Debit air sungai melambat.
Akar pepohonan mengikat air tanah.

Warga kota menghormati, berinteraksi, berwisata dengan sungai.
Bawah adalah yg telah terjadi..katanya normalisasi ‪#‎ciliwung‬ . Tapi tidak normal.
Sungai tidak dilebarkan. Dikasih dinding beton tinggi di atas sana. Bekas gusuran jadi jalan beton di atas kampung. Kalau hujan panjang..maka dikirim mobil pompa banyak agar air di kampung bisa naik ke atas dinding sungai melalui jalan beton.

Liat posting sebelum2nya tentang kondisi air di sungai atas yg hampir meluap dan pompa ketika banjir.
Gambar atas adalah salah 1 materi presentasi pertemuan dengan bapak gubernur dan telah disampaikan.





Wednesday, April 06, 2016

6 april 2016

image courtesy by renovasi-ku
Sering dikultuskan oleh ahli2 budaya.
Tapi bukti nyatanya apa?
Byk.peradaban itu musnah dan tak kembali. Entah oleh bencana alam atau perang saudara dan lainnya.
Kearifan lokal betapa luhur tidak mampu bertahan menjadi tuntunan warganya.
Terus luntur dan ditinggalkan.
Kemudian tatanan dunia terus rusak. Bumi makin rusak. Itu kenyataan.

Masihkah mau bergantung pada kearifan lokal persis spt dulu yg sekarang terdengar banyak hanya jadi mitos2 pokoknya begini pokoknya begitu?
Percuma. Kan sudah terbukti tidak diikuti masyarakatnya.

Apa yang dibutuhkan sekarang?
Tafsiran baru atas nilai luhur lama. Lalu mungkin munculkan nilai luhur baru. Yang sangat kontekstual relevan dan harus bisa disukai masyarakatnya.
Misal saja hutan keramat/larangan yg demikian dijaga hebat banyak kampung adat. Tapi juga kenyataan deforestasi indonesia gila2an.
Apakah dengan pendekatan mitos keramat dan larangan bisa ampuh? Sdh terbukti gagal.
Mungkin yg diperlukan skrg adalah pengetahuan mendalam atas hutan dan segala isinya. Sehingga masyarakat mencintai hutan. Berwisata ke hutan2. Walau pasti perlu fasilitas bangunan utk mengajak masyarakat masuk hutan. Tapi dikendalikan sangat. Bukan eksploitasi hutan untuk wisata saja. Konservasi jalan. Wisata jalan. Nilai pentingnya hutan tersampaikan.
Sehingga lbh banyak masyarakat yg akan bela hutan kalau dirusak. Karena lebih mengerti..lebih menikmati. Pernah masuk. Pernah belajar mengenal. bukan karena dikeramatkan. Atau dilarang2 masuk.

Tafsiran baru..kemasan baru...persuasi baru dibutuhkan agar peradaban kita membaik. Tidak makin busuk.
cimahi,
6 april 2016
yu sing.
studio akanoma.





Author

My photo
Ali Said, ST
ali said adalah lulusan arsitektur universitas hasanuddin tahun 2010, sehari hari bekerja sebagai profesional arsitek, lebih khusus mendesain rumah dan perumahan, di sela sela kesibukannya juga aktif menulis sebagai blogger desain dan arsitektur

Daftar Isi

Lingkar Media. Powered by Blogger.

Popular Posts 7 days